Category Archives: Tarbiyah

NASIONALISME ISLAM

Adakah konsep nasionalisme di dalam Islam.? Islam dan nasionalisme merupakan dua buah hal yang saling berlawanan. Konsep nasionalisme yang diluncurkan oleh barat tidak compatible dengan Islam. Bukankah sejarah juga telah mencatat keruntuhan khilafah ustmaniyah salah satunya disebabkan karena muncul dan berkembangnya  spirit nasionalisme dikalangan bangsa arab yang ingin memisahkan diri dari bangsa Turki ustmani yang saat itu dianggap sebagai simbol kesatuan umat Islam seluruh dunia. Ide nasionalisme menghancurkan khilafah Islamiyah.
            Barat telah berhasil memecah-mecah negeri-negeri Islam menjadi Negara-negara yang mandiri. Namun, meski demikian kebanyakan kaum muslimin tetap punya perasaan sama bila kaum Muslim di luar negerinya dizhalimi. Banyak dari organisasi Islam yang berusaha menjayakan Islam di negerinya dan menjadikan negerinya Islami. Sehingga

mulailah sedikit demi sedikit konsep nasionalisme ini diterima, asalkan tidak bertentangan dengan Islam.

Yang menarik adalah mengamati pendapat tokoh Ikhwanul Muslimin –pergerakan Islam terbesar di dunia- Hasan Al-Banna sebagai orang pertama yang secara komprehensif dan sistematis membincangkan tentang nasionalisme dan Islam.
            Hasan Al-Banna membedakan antara konsep al-wathaniyah dan al-qawmiyah dalam menjelaskan arti kebangsaan. merestorasi konsepsi awal patriotisme dan nasionalisme yang Eropa sentris dan berwatak sekular menjadi konsep yang telah diisi pemahaman baru sesuai Islam dan dimanfaatkan untuk kebangkitan Islam. Dalam kaidah ushul fikih, Al-Banna melakukan apa yang dikenal dengan “memelihara yang lama yang baik dan mengambil yang baru yang lebih baik”. Unsur-unsur terbaik dari patriotisme atau nasionalisme diserap dan dirumuskan untuk menjadi alat perjungan kebangkitan Islam.
Lebih lanjut, Hasan Al-Banna menguraikan perspektif nasionalisme dalam Islam dengan menegaskan bahwa motif-motif ideal nasionalisme sepenuhnya relevan dengan doktrin-doktrin Islam. Pandangan Hasan Al-Banna tentang nasionalisme diantaranya adalah:
Pertama, Nasionalisme Kerinduan. Jika yang dimaksud dengan nasionalisme oleh para penyerunya adalah cinta tanah air dan keberpihakan padanya dan kerinduan yang terus menggebu terhadapnya, maka hal itu sebenarnya sudah tertanam dalam fitrah manusia. Lebih dari itu Islam juga menganjurkan yang demikian.
Kedua, Nasionalisme Kehormatan dan kebebasan, yaitu nasionalisme dalam bentuk keharusan berjuang membebaskan tanah air dari cengkeraman imperialisme, mananamkan makna kehormatan dan kebebasan dalam jiwa putera-putera bangsa, maka kitapun sepakat tentang itu. Islam telah menegaskan perintah itu dengan setegas-tegasnya.
Ketiga, Nasionalisme Kemasyarakatakan. Yaitu nasionalisme dalam rangka memperkuat ikatan kekeluargaan antara anggota masyarakat atau warganegara serta menunjukkan kepada mereka cara-cara memanfaatkan ikatan itu untuk mencapai kepentingan bersama. Islam bahkan menganggap itu sebagai sebuah kewajiban. Lihatlah bagaimana Rasullalah saw bersabda, “Dan jadilah kalian hamba-hamba allah yang bersaudara.” (Al-Hadist)
Tidaklah seorang manusia dianggap sempurna kecuali memiliki rasa cinta terhadap negerinya, rindu kepadanya, berjuang dengan jiwa dan hartanya untuk membelanya, bahkan berusaha mengerahkan seluruh potensi untuk menjaga kemuliaan dan kemenangannya.
Ketika kecintaan kepada negeri dilandasi karena Allah. Lingkupnya akan menjadi lebih luas mencakup semua tanah kaum muslimin, sehingga membela mreka menjadi kewajiban dan menolong mereka adalah keharusan.
Nabi saw memberikan contoh yang menakjubkan terkait cinta kepada negeri sendiri, loyal kepadanya dan rindu terhadapnya, pada saat hijrah dari mekkah setelah terasa sempit jalan-jalan dakwah, kemudian beliau bersabda. “Demi Allah, Engkau adalah tempat (bumi) yang paling aku cintai sekiranya pendudukmu tidak mengusirku, maka aku tidak akan keluar darimu”.
Yang membedakan Islam dengan nasionalis sempit adalah batasan nasionalisme bagi Islam ditentukan oleh basis iman, bukan territorial wilayah negara dan bata-batas geografis. Bagi Islam, setiap jengkal tanah di bumi ini dimana di atasnya ada seorang muslim yang mengucapkan La ilaha illallah, maka itulah tanah air Islam. Wajib bagi seorang muslim menghormatinya serta berjuang dengan tulus demi kebaikannya. Setiap muslim turut merasakan apa yang mereka rasakan dan memikirkan kepentingan-kepentingan mereka.

Islam sepakat dengan konsep nasionalisme dalam semua maknanya yang baik dan dapat mendatangkan manfaat bagi manusia dan tanah airnya. Sehingga jelaslah bahwa Islam dan nasionalisme bukanlah sesuatu yang bertentangan. Ide nasionalisme dengan slogan dan yel-yelya, tidak lebih dari kenyataan bahwa nasionalisme merupakan bagian sangat kecil dari keseluruhan ajaran Islam yang agung.

Musyarakah Siyasiyyah

            Ikhwa fillah, yang dimaksud dengan musyarakah siyasiyyah adalah keterlibatan jamaah dalam pengambilan keputusan yang terkait dengan kemaslahatan umum di lembaga- lembaga politik formal maupun informal, di tingkat nasional atau daerah beserta seluruh aktivitas yang mengikutinya seperti pemilihan umum, koalisi, dan aktivitas politik lainnya1.
            Diantara tuntutan syumuliyyatud da’wah adalah keterlibatan dan kehadiran kita dalam seluruh aspek kehidupan masyarakat, terutama memasuki kancah pengambilan keputusan.
            Ikhwah fillah, manfaat yang kita ingingkan dari keberadaan ikhwah di lembaga-lembaga kenegaraan adalah mampu menyuarakan dakwah di sana dengan meminimalisir keputusan-keputusan yang bertentangan dengan syariat Islam dan memperbesar peluang diberlakukannya keputusan yang lebih memudahkan dakwah Islam untuk semakin kuat dan tersebar. Syaikh Abdurrahman As-Sa’adi dalam tafsirnya berkata:

Allah swt membela  orang-orang yang beriman dengan berbagai cara, ada yang mereka ketahui da nada pula yang tidak mereka ketahui. Diantaranya adalah factor kabilah (kesamaan suku antara da’I dengan ummat) seperti yang dialami oleh Nabi Syuaib as. Ikatan-ikatan yang dapat membantu membela Islam dan kaum muslimin seperti ini boleh diusahakan bahkan dalam keadaan tertentu menjadi wajib diwujudkan, karena ishlah (perbaikan) itu wajib dilakukan sesuai kemampuan dan kemungkinan. Oleh karena itu upaya ummat Islam yang berada di Negara atau wilayah kafir kemudian berusaha mengubah keadaan Negara itu menjadi republic yang demokratis sehingga masyarakat bias menikmati kebebasan beragama dan hak-hak sipilnya, semua usaha itu adalah lebih baik daripada berdiam diri menyerahkan pengambilan keputusan ini kepada orang kafir semuanya. Memang jika semua urusan berada di tangan ummat Islam itu adalah semestinya, namun jika tidak bias, maka yang bias kita lakukan harus kita lakukan untuk melindungi agama dan dunia2.
            Ikhwa fillah, asas utama musyarakah siyasiyyah adalah tashilul masasih  dan taqlilul mafasid (meraih maslahat dan mengurangi mafsadat). Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata:
Bahwa syariat datang untuk menghasilkan maslahat dan kesempurnaannya, menghilangkan dan meminimalisir kerusakan. Syariat lebih mengutamakan dan menguatkan kebaikan yang lebih besar diantara dua kebaikan (jika harus memilih salah satunya) dan mendukng keburukan yang lebih ringan diantara dua keburukan (jika harus memilih salah satunya), lalu memilih dan mengambil yang paling maslahat dengan menabaikan yang lebih rendah, dan menghilangkan yang lebih besar mudharatnya dengan menanggung resiko yang lebih rendah dan ringan…
            Selanjutnya beliau juga berkata:
            Dari sisi inilah Yusuf as menjabat perbendaharaan Mesir bahkan memintanya kepada raja Mesir agar menjadikannya pemegagng perbendaharaan bumi. Sementara raja dan kaumnya dalam keadaan kafir, sebagaimana firman Allah, SWT;
“Sungguh telah dating kepada kalian Yusuf, sebelumnya dengan keterangan yang nyata, dan kalian senantiasa dalam keraguan terhadap apa yang ia bawa”. (Ghafir 40: 34 )
“Wahai kedua penghuni penjara, apakah tuhan-tuhan yang berpecah belah, lebih baik dari Allah yang Maha Esa dan kuat?, apa yang kalian sembah selain Allah tidak lain kecuali nama-nama yang kalian dan nenek moyagn kalian namakan”. (Yusuf 12: 39-40)
Dapat dimaklumi bahwa dengan kekafiran yang ada pada mereka, mengharuskan mereka memiliki kebiasaan dan cara tertentu dalam memungut dan mendistribusikan harta kepada raja, keluarga raja, tentara dan rakyatnya. Tentunya cara itu tidak seusai dengan ketentuan bagi para nabi dan utusan Allah. Namun bagi Nabi Yusuf as tidak memungkinkan untuk menerapkan apa yang ia inginkan berupa ajaran Allah, karena rakyat tidak menghendaki hal itu, berupa keadilan dan perbuatan baik. Dengan kekuasaan itu, ia dapat memuliakan orang-orang yang beriman diantara keluarganya, hal yang tidak akan mungkin dia dapatkan tanpa kekuasaan itu. Semua ini masuk dalam firman Allah “Bertakwalah kepada Allah sesuai kemampuanmu” (At-Taghabun 64:16).3
Dalam Siyasah Syar’iyyah-nya, Ibnu Taimiyah rahimahullah juga menegaskan prinsip muwazanah antara maslahat dengan mudharat ini seraya berkata:
            “Berkumpulnya kekuatan dan amanah sekaligus pada diri sesorang sangat jarang ditemukan, oleh karenanya Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu mengadu kepada Allah swt:
Ya Allah, aku mengaduk kepada-Mu tentang kekuatan orang yang berdosa dan kelemahan orang yang terpercaya
Maka yang wajib ditempatkan untuk setiap jabatan adalah yang paling besar maslahatnya sesuai jabatan itu sendiri. Bila hanya ada dua pilhan untuk sebuah jabatan, dimana yang satu lebih amanah dan yang lain lebih kuat, maka yang didahulukan adalah yang lebih bermanfaat dan lebih sedikit mudharatnya untuk jabatan itu. Untuk jabatan tempur, lebih diutamakan laki-laki yang lebih kuat meskipun pada dirinya ada kemaksiatan daripada laki-laki yang lemah meskipun lebih shalih. Hal ini seperti ungkapan Imam Ahmad bin Hambal rahimahullah ketika ditanya tentang dua calon pemimpin perang yang satu kuat tapi pendosa sedangkan yang lain shalih tapi lemah. Jawaban Imam Ahmad: “Orang yang pendosa, kekuatannya akan bermanfaat bagi ummat Islam dan dosa-dosanya untuk dirinya sendiri, sedangkan orang shalih yang lemah, keshalihanya untuk dirinya sendiri dan kelemahannya merugikan kaum muslimin.” Rasulullah bersabda:
Dan sesungguhnya Allah swt akan menguatkan agama ini dengan laki-laki pendosa. (HR. Bukhari).4
Oleh karena itu pula Rasulullah saw mengangkat Khalid bin Walid sebagai pemimpin perang sejak ia masuk Islam dan beliau berkata bahwa Khalid adalah pedang yang dihunuskan Allah kepada orang-orang musyrik, meskipun terkadang Khalid melakukan perbuatan yang diingkari oleh Rasulullah saw, sehingga Rasulullah pernah mengangkat kedua tangannya ke langit sambil berdoa: “Ya Allah, aku berlepas diri dari apa yang telah dilakukan Khalid.” Yaitu ketika Rasulullah saw mengutus Khalid ke suku Judzaimah lalu Khalid membunuh mereka dan mengambil harta mereka dengan alas an yang mengandung syubhat, padahal itu tidak diperbolehkan. Begitu pula para sahabat yang bersama Khalid telah meingngkarinya…
Sementara itu Abu Dzar Al-Ghifari radiyallahu ‘anhu lebih baik dari Khalid dalam amanah dan kejujuran, meskipun begitu Rasulullah saw berkata kepada Abu Dzar: “Wahai Abu Dzar, aku melihatmu sebagai orang yang lemah, aku menginginkan untukmu apa yang kuinginkan untuk diriku. Jangan engkau memimpin dua orang dan jangan mengurusi harta anak yatim.” (HR. Muslim). Rasulullah saw melarang Abu Dzar untuk memimpin dan menjabat jabatan karena beliau menilainya lemah padahal Rasulullah saw pernah bersabda: Tidak ada di dunia ini yang lebih jujur ungkapannya selain Abu Dzar.
Rasulullah saw juga mengangkat ‘Amr bin ‘Ash radiyallahu ‘anhu pada perang Dzatus Salasil untuk melembutkan hati kerabatnya karena Rasulullah saw mengutus ‘Amr bi ‘Ash kepada mereka padahal ada yang lebih baik keimanannya dari ‘Amr bin ‘Ash. Rasulullah saw juga mengangkat Usamah bin Zaid sebagai pemimpin pasukan untuk dapat membalas gugurnya sang ayah (Zaid bin Haritsah). Jadi, Rasulullah saw mengangkat seseorang dengan pertimbangan maslahat tertentu meskipun ada yang lebih baik dari orang tersebut keilmuan dan keimanannya. Demikian Ibnu Taimiyah.5
                Salah seorang ulama Saudi Arabia, Dr. Nashir bin Sulaiman Al-Umar dalam salah satu fatwanya mengatakan:
             “Ketahuilah bahwa hokum asalh musyarakah adalah al-jawaz (boleh). Salah satu yang bias kita jadikan pertimbangan hokum tentang bolehnya musyarakah ini adalah dibolehkannya jihad (perang) bersama pemimpin yang fajir tidak akan lepas dari kerusakan yang pasti. Namun kerusakan ini menjadi lebih kecil nilainya jika dibandingkan dengan besrnya maslahat berjihad. Dan kerusakan yang timbul dari tidak berjihad bersamanya jauh lebih besar dari kerusakan yang timbul dari berjihad bersamanya.”6
            Dalam situasi seperti diatas hokum asal yang mubah (boleh) dapat berubah menjadi sunnah bahkan wajib jika maslahatnya jelas-jelas nyata dan wajib diwujudkan atau jika ditinggalkan mengakibatkan mudharat yang amat banyak.
            Musyarakah siyasiyyah juga membuka peluang bagi ikhwah untuk mengetahui dan mengakses informasi penting terkait maslahat harakah dan dakwah baik informasi amniyah, politik, ekonomi, social kemasyarakatan dan lain-lain. Sesuatu yang amat sulit kita peroleh tanpa musyarakah. Musyarakah siyasiyyah juga bermanfaat sebagai ajang menimba pengalaman memipin Negara, berdialog dengan berbagai pihak dalam institusi Negara, dan melakukan pelayanan public dalam skala yang lebih besar.
            Ikhwah fillah, kita mengambil pilihan musyarakah siyasiyyah yang merupakan al-khiyar al-ashwab (pilihan yang paling tepat) meskipun kita menyadari bahwa ia juga merupakan a-khiyar al-ash’ab (pilihan yang sulit), karena musyarakah berarti pilihan iqtihalul ‘aqabah (menempuh jalan terjal mendaki), at-tadafu’ al-yaumi (pertarungan harian), pilihan merealisasikan kebersihan dan istiqamah di tengah berbagai penyimpangan dan kekotoran, dan pilihan mempengaruhi secara bertahap tanpa larut dalam penyimpangan tersebut.
            Apabila terjadi kasus-kasus penyimpangan pada personil dalam musyarakah siyasiyya maka penyimpangan itu adalah bukti kelemahan personil tersebut. Sementara penilaian baik atau buruknya pelaksanaan musyarakah haruslah dilihat dari capaian hasil secara keseluruhan dengan menggunakan timbangan maslahat dan mudharat yang menyeluruh dari berbagai sudut pandang. Hal ini seperti yang disampaikan oleh Syaikh Ahmad Ar-Raisuni, tokoh Harakah Tauhid wal Ishlah di Maroko:
            “Penyimpangan personil merupakan bukti kelemahan orang yang bersangkutan, namun bukan berarti tidak ada lagi diantara ummat ini yang akan berhasil dalam musyarakah. Orang-orang baik jangan hanya berpikir tentang dua kemungkinan dalam musyarakah: gagal lalu keluar atau larut dalam penyimpangan. Di dalam ummat dan jamaah ini pasti ada tambang berharga yang mampu berhasil dalam musyarakah. Kita melakukan ta’awun dalam shaf yang solid dan kokoh dalam rangka terus mewujudkan keberhasilan musyarakah ini.”7
            Ikhwah fillah, tentunya kita sepakat bahwa tarbiyah yang baik adalah syarat keberhasilan segala aktivitas dakwah,  karena tarbiyah adalah munthalaq dan asa kebaikan serta perubahan yang kita inginkan dalam perjuangan ini. Oleh karenanya kader yang terlibat dalam musyarakah siyasiyyah haruslah memiliki kualifikasi tarbawi yang baik sesuai kebutuhan jabatan public yang ia emban. Disamping itu kita juga harus bersama-sama berusaha mewujudkan mashlahat musyarakah itu dan terus mengawalnya, terutama di bidang tarbiyah nukhbawiyyah (pangkaderan) maupu tarbiyah jamariyyah (perbaikan masyarakat secara umum). Pencapaian kemenangan politik dalam musyarakah siyasiyyah hanyalah sarana dakwah guna mewujudkan tujuan utamanya yakni tahqiqul lillahi wahdah (mewudujkan penghambaan hanya kepada Allah semata) dalam naungan keadilan Islam. Apabila tujuan utama dakwah ini terlupakan, lalu sarana menjadi tujuan, saat itulah penyimpangan terjadi – semoga Allah menjaga kita.
Diambil dari buku “Seri Taujihat Pekanan Kader PKS”
Catatan Kaki:
  1. Fatwa Mujarma Fuwaha Syariah di Amerika dalam mu’tamarnya yang ke-4 di Kairo Mesir 28 Juli s/d 2 Agustus 2006 dengan sedikit perubahan.
  2. Tafsir As-Sa’di hal 345 ketika menafsirkan surat Hud ayat 91.
  3. Majmu’Fatwa 4/241.
  4. Potongan hadits riwayat Bukhari dalam shahinya Bab “Sesungguhnya Allah akan membantu agama ini dengan laki-laki pendosa” no 2834.
  5. Siyasah syar’iyyah, pasal tentang “Sedikitnya sifat amanah dan kekuatan berkumpul pada seseorang”.
  6. http:///www.islamtoday.net/islamion/f05.html.
  7. http://www.raissouni.org/Docs/155200710648AM.doc

Orasi Aksi Milad KAMMI 29 Maret 2014

Kawan-kawan sekalian, peserta aksi milad KAMMI ke-XVI. Tidak kurang 10 hari lagi kita akan melaksanakan sebuah pesta demokrasi akbar yang akan menentukan nasib bangsa ini 5 tahun kedepannya. Kita ketahui bersama bahwasanya pemilu merupakan cara paling aman dan konstitusional dalam menyelesaikan persoalan bangsa. Tetapi yang menjadi pertanyaannya, apakah pemilu ini benar-benar bisa menyelesaika persoalan bangsa…???
Sebelum kita menjawab pertanyaan itu, Ada satu hal terlebih dahulu ingin saya sampaikan, saya menghimbau kepada seluruh partai politik peserta pemilu, ketika melakukan perekrutan bakal caleg, lakukan dengan cara yang ketat sesuai dengan visi misi yang partai perjuangkan. Jangan semata-mata karena  si bakal caleg punya modal yang besar lantas diloloskan dalam penjaringan. Lakukanlah penjaringan yang betul dan baik. Dengan sumber informasi yang serba terbatas, kasihan masyarakat yang harus mencari, mengenal, dan mempelajari caleg-caleg yang bakal dipilih, ada ratusan nama caleg.

Kawan-kawan sekalian. Jika kita semua yakin bahwa bangsa ini benar-benar sedang sakit, maka saya ingin mengajak kita semua untuk bersama-sama bangkit mengobatinya. Saya katakan, bahwa pemilu tanggal 9 April nanti merupakan momentum yang dapat kita jadikan sebagai titik tolak untuk perbaikan bangsa ini. Pemilu bisa berarti baik dan bisa berarti buruk, tergantung bagaimana kita memikirkannya dan melaksanakannya. Pemilu bisa berarti baik ketika kita memilih orang-orang yang benar-benar memiliki integritas, kejujuran, tanggung jawab, disiplin, dan kebijksanaan dalam menentukan aturan. Kita harus paham bahwa orang-orang yang akan kita pilih adalah orang-orang yang memang mengetahui dan memahami fungsinya sebagai lesgislatif, ada tiga fungsi anggota legislatif yaitu fungsi legislasi itu sendiri (menyusun undang-undang), fungsi pengawasan, dan fungsi anggaran. Dari ketiga fungsi itu sudah sangat jelas kompetensi seperti apa yang harus dimiliki, para caleg yang memiliki kemampuan memahami hukum, memahami ekonomi keuangan, memahami statistik, dan memahami bahasa komunikasi untuk menjalankan fungsinya denga baik. Kita jangan memilih calon legislative ibarat memilih kucing dalam karung, orang yang kita pilih tidak berdasarkan integritas dan kompetensinya, tetapi sekedar karena kedekatan kekerabatan, atau lebih parahnya lagi kita memilih caleg karena sekedar selembar uang 50.000.
Oleh sebab itu kawan-kawan sekalian sekali lagi kenali calon yang akan kita pilih dengan baik, bangsa ini masih dapat kita perbaiki. Satu suara untuk memilih caleg yang berkualitas sama dengan satu membangun anak tangga menuju Indonesia yang lebih baik.

BERGERAK TUNTASKAN PERUBAHAN…!!!

PENDIDIKAN POLITIK BAGI PEMILIH PEMULA

           Pendidikan politik adalah segala sesuatu kegiatan yang berkaitan dengan urusan yang menyangkut kepentingan dari sekelompok masyarakat (negara) guna mengetahui hak-hak dan kewajibannya. Pendidikan politik mengajarkan masyarakat untuk lebih mengenal sistem politik negaranya. Dapat dikatakan bahwa pebdidikan politik adalah proses pembentukan sikap dan orientasi politik para anggota masyarakat. Melalui proses pendidikan politik inilah para anggota masyarakat memperoleh sikap dan orientasi terhadap kehidupan politik yang berlangsung dalam masyarakat.
Dengan adanya pendidikan politik diharapkan setiap individu dapat mengenal dan memahami nilai-nilai ideal yang terkandung dalam sistem politik yang sedang diterapkan. Kemudian, dengan adanya pendidikan politik setiap individu tidak hanya sekedar tahu saja tapi juga lebih jauh dapat menjadi seorang warga negara yang memiliki kesadaran politik untuk mampu mengemban tanggung jawab yang ditunjukkan dengan adanya perubahan sikap dan peningkatan kadar partisipasi dalam dunia politik.

Di tahun 2014 ini, Indonesia akan menggelar pesta demokrasi. Pada tanggal 9 April 2014 nanti, masyarakat Indonesia akan memilih secara langsung wakilnya di parlemen untuk periode jabatan 2014-2018. Kemudian di bulan juli mendatang, masyarakat Indonesia kembali akan menyalurkan hak pilihnya dengan memilih Presiden dan Wakil Presiden periode 2014-2018.
Dari data yang dirilis Komisi Pemiliha Umum (KPU), jumlah pemilih yang terdaftar pada Daftar Pemilh Tetap (DPT) pemilu 2014 berjumlah 186.612.255 penduduk Indonesia. Dari jumlah tersebut 20-30% adalah pemilh pemula. Pemlih pemula adalah kelompok muda yang baru pertama kali akan menggunakan hal pilihnya dalam pemilu. Pemilih pemula ini terdiri dari mahasiswa dan siswa SMA yang telah memenuhi syarat yaitu berusia minimal 17 tahun.
Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS) 2010, penduduk berusia 15-19 tahun berjumlah 20.871.086 orang, penduduk berusia 20-24 tahun berjumlah 19.878.417 orang. Dengan demikian jumlah pemilih muda sebanyak 40.749.503 orang. Dalam pemilu, jumlah tersebut sangat besar dan jika disatukan dalam sebuah partai, maka bisa menentukan kemenangan partai politik atau kandidat yang berkompetisi dalam pemilu.
Secara karakteristik, pemilih pemula memiliki perbedaan dengan pemilih tua. Pemilih pemula cenderung kritis dan mandiri dalam menentukan pilihannya. Mereka memilih berdasarkan pertimbangan yang rasional, misalnya karena integritas moral tokoh yang dicalonkan partai politik, track record-nya, program kerja yang ditawarkan, atau  pun platform partai politik yang mengusung caleg tersebut. Secara sederhana, karakteristik seperti ini yang kemudian diharapkan dapat tumbuh dan kemudian membangun komunitas pemilih cerdas dalam pemilu tahun ini.
Namun demikian, pemilih pemula masih perlu untuk mengetahui dan memahami berbagai hal terkait pemilu, antara lain untuk apa pemilu ini diadakan, seperti apa tahapan-tahapannya, siapa saja yang boleh memilih, bagaimana cara menggunakan hak pilih, lembaga yang menyelenggarakan pemilu dan sebagainya. Pertanyaan-pertanyaan seperti ini yang kemudian harus dicari jawaban-nya agar kemudian benar-benar terbangun komunitas pemilih cerdas dalam menentukan pilihan politik-nya.
Pertanyaan-pertanyaan ini juga muncul untuk menyadarkan kepada pemilih pemula betapa berharganya suara mereka bagi proses politik di Negara ini. Walau pun hanya satu suara, namun dengan satu suara itu dapat menentukan arah perjalanan bangsa ini lima tahun kedepan. Agar tidak ada lagi pemilih pemula yang tidak mau berpartisipasi dalam pemilu dan memilih ikut-ikutan tidak mau menggunakan hak pilihnya alias golongan putih (golput).
Oleh karena itu, penting bagi pemilih pemula untuk mendapatkan pendidikan politik. Tujuannya agar pemilih pemula benar-benar memahami segala sesuatu yang terkait dengan proses pemilu, dan harapan-nya terbentuk pemilih cerdas yakni pemilih yang sadar menggunakan hak pilihnya dan dapat memilih wakil yang berkualitas di parlemen demi perbaikan masa depan bangsa dan Negara.
SALAM PEMILIH PEMULA…

BERGERAK TUNTASKAN PERUBAHAN…

Pembentukan Moral Melalui Sentuhan Nilai Agama

BAB I
PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang
Krisis moral dan kepribadian menjadi fenomena yang terjadi dalam kehidupan kita.. Penyalahgunaan narkoba, seks bebas, tersebarnya tempat-tempat maksiat dan penyimpangan-penyimpangan perilaku lainnya menghiasi kehidupan kita. Sampai saat ini, upaya-upaya telah banyak dilakukan oleh banyak pihak, namun hasilnya masih jauh dari harapan. Namun upaya-upaya tersebut tidak harus ditiadakan atau dikurangi tetapi harus lebih ditingkatkan tetapi lebih simultan dan komprehensif.
      Seorang pemikir islam pernah mengutrakan hasil pengamatannya tentang kondisi umat islam saat ini. Salah satu fenomena yang terjadi adalah hilangnya kepribadian sitimewa dikalangan umat muslim. Seperti yang dikemukakan oleh Ihsan Tanjung (2001:X). Sebagai berikut
“Asy Syaikh Kamal Halbawy berpendapat bahwa di era globalosasi saat ini sebagian kaum muslimin tidak utuh dalam menampilkan kepribadian islam. Ada kelemahan dalam upaya melengkapi keseluruhan wilayah akhlak. Misalnya dalam wilayah kepribadian terkadang seorang muslim begitu concern terhadap akhlak kepada Allah, namun mengabaikan akhlah kepada sesame manusia. Sehingga apa yang ada pada masa dahulu menjadi keistimewaan kaum muslimin, maka hari ini sangat langkah ditemui di dalam dunia Islam”
1.2  Rumusan Masalah
1.      Seberapa penting pendidikan agama dalam membentuk moral seseorang?
2.      Bagaimana rusaknya moral anak bangsa saat ini yang tidak tersentuh dengan nilai-nilai agama.
3.      Bagaiaman membentuk akhlak dan perilaku Islam?
1.3  Tujuan Penulisan
Penulisan makalah ini bertujuan untuk mengetahui seberapa pentingnya pendidikan agama dan moral bagi bangsa ini, selain itu juga sebagai tugas dari mata kuliah Bahasa Indonesia di semester dua.      
1.4  Metode Penelitian
Metode yang kami lakukan dalam penyusunan karya tulis ini merupakan metode kepustakaan yang  kami sadur dari buku-buku dan internet.
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Penyabab Terjadinya Krisis Moral
Kita hidup dalam sebuah dunia yang gelap, dimana setiap orang meraba-raba, namun tidak menemukan denyut nurani, tidak merasakan sentuhan kasih, dan tidak melihat sorot mata persahabatan yang tulus, Dunia kita telah menjadi hutan belantara, dimana bahasa global kita adalah kekuatan besi dan baja, bahasa bisnis kita adalah persaingan, bahasa politik kita adalah penipuan, dan bahasa social kita adalah pembunuan.

Dalam hal ini masyarakat mungkin mengalami krisis moral. Krisis moral dapat ditandai oleh dua gejala yaitu tirani dan keterasingan. Tirani merupakan gejala dari rusaknya perilaku sosial, sedangkan keterasingan menandai rusaknya hubungan sosial.

Penyebab terjadinya krisis moral adalah :

1.      Adanya penyimpangan pemikiran dalam sejarah pemikiran manusia yang menyebabkan paradoks antarnilai, misalnya etika dan estetika.
2.      Hilangnya model kepribadian yang integral, yang memadukan kesalihan dengan kesuksesan, kebaikan dengan kekuatan, dan seterusnya.
3.      Munculnya antagonisme dalam pendidikan moral.
4.      Lemahnya peranan lembaga sosial yang menjadi basis pendidikan moral
Krisis moral ini menimbulkan begitu banyak ketidakseimbangan di dalam masyarakat yang tentunya tidak membuat masyarakat bahagia. Maka solusi yang sangat tepat bagi masalah ini hanya satu yaitu : Kembali menempuh jalan Allah, kembali kepada jalan islam. “Maka, barangsiapa mengikuti petunjuk-Ku, niscaya tidak ada kekhawatiran atas mereka, dan tidak pula mereka bersedih hati.” (QS. Al-Baqarah : 38)
2.2 Teori Keseimbangan Umar Bin Khattab
            Umar bin Khattab melihat bahwa suatu masyarakat akan kehilangan keseimbangannya jika gejala itu terjadi. Ada orang –orang shaleh yang lemah dan tertindas, da nada orang-orang jahat yang kuat dan perkasa. Yang pertama berarti kebaikan bertemu dengan kelemahan dan yang kedua berarti kejahatan bertemu dengan kekuatan.
            Karena itu Umar bin Khattab pernah berdoa: “Ya Allah, kami berlindung kepada-Mu dari ketidakberdayaan orang-orang bertakwa dan keperkasaan orang-orang jahat ”.
            Oleh sebab itu keseimbangan social menurut Umar Bin Khattab akan terjadi jika keshalehan bertemu dengan kekuatan dan kejahatan bertemu dengan kelemahan.
2.3 Tirani dan Keterasingan
            Bagaimana kita mengetahui bahwa suatu bangsa mengalami krisis moral? Dalam konteks ini kita dapat menyebut dua gejala; tirani dan keterasingan.
            Tirani merupakan gejala dari rusaknya perilakuk social , dimana polarisasi kelompok terbagi menjadi dua yakni kelompok kuat yang tiran dan kelompok lemah yang menjadi objek tirani.

            Sementara itu, keterasingan menandai rusaknya hubungan social. Keterasingan berarti bahwa individu merasa sebagai orang asing dalam masyarakat. Ia hidup ditengah mereka namun tidak pernah merasakan kebersamaan dengan mereka. Lalu secara perlahan individu dan masyarakat terbelah dan terpecah. Dimana individu tidak lagi melihat masyarakat sebagai tempatnya melebur.
2.4 Jalan Terang Nilai-Nilai Islam
Manusia-manusia modern saat ini telah kehilangan cahaya kehidupan yang dapat membimbing mereka menuju keselamatan dan kebahagian dari semua yang mereka lakukan.
            Dunia kita ini telah gelap gulita. Dan hanya cahaya Allah yang dapat meneranginya kembali. Maka Allah berfirman;
            “… dan barang siapa yang tidak diberi cahaya oleh Allah , maka tiadalah ia mempunyai cahaya sedikitpun juga.” (QS.24:40)
            Jalan keluar itu ada disini, kembali menempuh jalan Allah, ajaran Islam! Perbaiki akhlak dan kepribadian kita dengan perspektif Islam.


BAB III
PENUTUP
3.1  Kesimpulan
Kita hidup dalam sebuah dunia yang gelap, dimana setiap orang meraba-raba, namun tidak menemukan denyut nurani, tidak merasakan sentuhan kasih, dan tidak melihat sorot mata persahabatan yang tulus, Dunia kita telah menjadi hutan belantara, dimana bahasa global kita adalah kekuatan besi dan baja, bahasa bisnis kita adalah persaingan, bahasa politik kita adalah penipuan, dan bahasa social kita adalah pembunuhan.
Namun semua persoalan yang terjadi tersebut ada jalan keluarnya, dengan kembali menempuh jalan Allah, ajaran Islam. Karena dengan kembali ke ajaran Islam, maka Allah akan menerangi kehidupan kita yang sebelumnya gelap gulita.
3.2  Saran
Dengan menanamkan wawasan keislaman kepada diri kita, maka akhlak terpuji akan hadir dengan sendirinya di dalam setiap langkah hidup kita, akan menjauhkan diri kita dari akhlak-akhlak tercela, dan akan membentuk kepribadian islam yang dapat memperbaiki keseimbangan sosial
DAFTAR PUSTAKA
Artikel Non-Personal. 2012. Pendidikan Agama Membangun Moral. http://www.scribd.com/doc/72511469/Pendidikan-Agama-Membangun-Moral(Diakses pada tanggal 14 Mei 2012)
Matta, Anis. 2001. Membentuk Karakter Muslim. Jakarta: Shout Al-Haq Press.
Musthava. 2012. Agama Dan Dekadensi Moral. http://mushthava.blogspot.com/2012/02/agama-dan-dekadensi-moral.html(Diakses pada tanggal 14 Mei 2012)
Sang Pencari Ilmu. 2011. Membentuk Karakter Muslim. file:///E:/moral/Saung%20Pencari%20Ilmu%20-%20Membentuk%20Karakter%20Muslim.htm(Diakses pada tanggal 14 Mei 2012)

Menyusuri Jejak Kegemilangan Islam

Ketika memulai tulisan ini, penulis mendapatkan satu pertanyaan yang sangat menghantui penulis. Pertanyaan ini muncul dan timbul menjadi menjadi semakin besar ketika satu persatu fakta yang didapatkan menggambarkan betapa besarnya sejarah yang dimiliki umat islam. Para pengembara agung yang menyebar diseluruh dunia islam meninggalkan jejak yang yang sangat mulia dalam takaran peradaban. Ilmu, keshalihan, serta kearifan mereka membuat kita berdecak kagumsekaligus merasa tidak berdaya.

Kemudian timbul pertanyaan baru, “Apakah Islam hanya gemilang dan cemerlang pada masa lalu?” Apakah kita hanya mampu dan bisa mengagumi masa lalu? Tentang kegagahan, kebesaran, dan tentang keagungan peradaban yang berhasilan dibangun oleh umat islam terdahulu.

Hari ini nyaris kita tidak bisa membanggakan apapun tentang islam dalam komunitas kaum Muslimin. Politik Islam hari ini, tak ada yang bisa kita jadikan kiblat. Ekonomi Islam hari ini, tidak ada yang bisa dijadikan referensi. Intelektualitas Islam hari ini, terkungkung hanya membanggakan masa lalu. Umatnya lemah, baik daya tawar dan juga posisinya. Apakah Islam telah berubah?

Sebenarnya bukan Islam yang berubah menjadi rendah. Islam, insa Allah tetapu tinggi dan mulia. Lalu siapa yang berubah kualitasnya?

Mungkin kita. Kaum muslimin yang mengaku dan memeluk Islam. Kualitas kita yang berubah menjadi rendah. Kita tidak lagi seperti orang-orang dahulu, yang dengan tunduk dan patuh melaksanakan perintah Allah dan Rasul-Nya dengan utuh. Kita memiliki berjuta pertanyaan yang diajukan bukan membuat kita untuk semakin yakin, malah sebaliknya sebagai cara untuk menghindar.

Apakah kita hanya mampu berbangga dengan masa lalu? Jika hari ini kaum Muslimin berada di pinggir jurang yang cukup mengancam, lalu bagaimana dengan masa depan kaum Muslimin nanti? Apakah lebih buruk dari hari ini, atau mulai menemukan setitik cahaya?

Dengan semangat mencari motivasi, seharusnya masa depan jauh lebih terang dari sekarang. Itu juga yang menjadi alasan kami untuk mencari dan menggambarkan kepada kaum Muslimin tentang pijakan sejarah yang kita miliki. Agar mampu menatap dan membangun masa depan yang lebih baik mulai dari sekarang.

Sebab, kata orang-orang bijak, siapa yang memiliki sejarah maka dia akan memiliki masa depan yang cearah. Semakin kita kebelakang menelusuri kegemilangan sejarah Islam, maka semakin cemerlang cahaya yang kita temukan. Tugas kita hari ini adalah, bagaimana membawa cahaya itu ke waktu sekarang. Agat bisa menerangi hari kita dan menjadi bekal di esok hari. Insya Allah.

Sebagian dikutip dari majalah Sabili No. 13 Th XVI 15 Januari 2009/18 Muharram 14 30

Renungan

Hidup Manusia itu Seperti Sebuah Buku..

Sampul Depan Adalah Tanggal Lahir,

Sampul Belakang Adalah Tanggal Kembali..

Tiap Lembarannya Adalah Hari-hari Dalam Hidup..

Ada Buku Yang Tebal, Ada Pula Buku Yang Tipis..

Hebatnya…….!!!

Seburuk Apapun Halaman Sebelumnya, Selalu Tersedia

Halaman Selanjutnya Yang Bersih, Baru & Tiada Cacat..

Seperti Halnya Dalam Hidup, Seburuk Apapun kemarin,

ALLAH Swt Selalu Menyediakan Hari Yang Baru Untuk

Kita, kesempatan Yang Baru Untuk Bisa Melakukan

Sesuatu Yang Benar Setiap Hari..

Memperbaiki Kesalahan & Melanjutkan Alur Cerita Yang

Sudah Ditetapkan-Nya..

^^ Selamat Berjuang Mengisi Lembar Demi Lembar

Dengan Semangat Kebaikan.^^

Beginilah Tarbiyah Mengajarkan Kami

Belum lama saya berada di dalam kehidupan kampus, namun tidak sedikit pula pengalaman yang sudah saya dapatkan, mulai dari tugas yang menumpuk yang harus dikerjakan sampai tengah malam, tawuran tidak jelas antar fakultas yang kadang-kadang muncul secara tiba-tiba, kelelahan fisik yang kami terima di bangku kuliah ditambah pengumplan oleh para senior. Tetapi semua ujian tersebut mampu kami hadapi dengan berusaha sekuat tenaga dan selalu ingat kepada Allah swt, Seperti yang selalu diingatkan kepada kami di dalam tarbiyah.

Tarbiyah.. adalah semacam pelepas dahaga bagi kami, ia memancarkan air ia memancarkan cahaya untuk menembus langsung pada jiwa-jiwa kami. Tarbiyah adalah pendidikan namun bukan hanya terhenti pada titik itu, ia melepaskan jiwa yang tadinya hanya terbelenggu oleh mata “dunia” saja menjadi jiwa yang mampu menaklukkan dunia dengan satu tujuan yakni Ridha Allah SWT.

Lalu seperti apa tarbiyah itu? Tarbiyah itu membuat jiwa yang kering menjadi basah, membuat jiwa yang lemah menjadi kuat. tarbiyah yang kami dapatkan bukanlah hanya sekedar transfer pengetahuan, namun juga berikut aplikasi dari ‘ilmu itu. Tarbiyah yang kami jalani adalah tarbiyah yang hidup di tengah-tengah kehidupan kami, bukan hanya saat pertemuan pekanan yang disebut liqo’ namun tarbiyah itu ada pada kami walaupun kami hanya sendirian.

Kader tarbiyah adalah manusia sama seperti Anda..ia juga lupa dan salah, namun tarbiyah telah ajarkan kami bagaimana agar hidup ini dijalani dengan berusaha sekuat tenaga untuk selalu ingat kepada Allah SWT mengikuti sunnah Rasulullah SAW, mencintai ulama dan umaro dan juga kaum mukmin lainnya serta menjaga hubungan baik dengan non muslim.

Tarbiyah mengajarkan kepada kami untuk menjalani hidup dengan kejujuran, menjalani hidup dengan optimis, menjalani hidup dengan perasaan cinta sebagai makhluk Allah SWT kepada makhluk lainnya. Maka apa ada yang salah dengan kami? Karena itulah kami berusaha untuk masuk ke semua elemen dalam bangsa ini, karena satu alasan yakni kami juga punya saham di negeri ini sebagai anak bangsa yang tak ingin negerinya terpuruk terus menerus..

Tarbiyah ajarkan kami untuk bekerja tak kenal lelah, maka Anda semua tak perlu heran terkadang dini hari kami di pelosok desa, siang hari di luar kota dan malam hari harus rapat untuk urusan umat. kami coba resapi taushiyah guru kami KH Rahmat Abdullah,

“Memang seperti itu dakwah. Dakwah adalah cinta. Dan cinta akan meminta semuanya dari dirimu. Sampai pikiranmu. Sampai perhatianmu. Berjalan, duduk, dan tidurmu. Bahkan di tengah lelapmu, isi mimpimu pun tentang dakwah. Tentang umat yang kau cintai”.

“Lagi-lagi memang seperti itu. Dakwah. Menyedot saripati energimu. Sampai tulang belulangmu. Sampai daging terakhir yang menempel di tubuh rentamu. Tubuh yang luluh lantak diseret-seret. Tubuh yang hancur lebur dipaksa berlari”.

“Seperti itu pula kejadiannya pada rambut Rasulullah. Beliau memang akan tua juga. Tapi kepalanya beruban karena beban berat dari ayat yang diturunkan Allah”.

“Sebagaimana tubuh mulia Umar bin Abdul Aziz. Dia memimpin hanya sebentar. Tapi kaum muslimin sudah dibuat bingung. Tidak ada lagi orang miskin yang bisa diberi sedekah. Tubuh mulia itu terkoyak-koyak. Sulit membayangkan sekeras apa sang Khalifah bekerja. Tubuh yang segar bugar itu sampai rontok. Hanya dalam dua tahun ia sakit parah kemudian meninggal. Toh memang itu yang diharapkannya; mati sebagai jiwa yang tenang”.

“Dakwah bukannya tidak melelahkan. Bukannya tidak membosankan. Dakwah bukannya tidak menyakitkan. Bahkan juga para pejuang risalah bukannya sepi dari godaan kefuturan”.

“Tidak. Justru kelelahan. Justru rasa sakit itu selalu bersama mereka sepanjang hidupnya. Setiap hari. Satu kisah heroik, akan segera mereka sambung lagi dengan amalan yang jauh lebih tragis”.

Saudaraku.. Tarbiyah mengajarkan banyak hal kepada kami untuk selalu bekerja.. Selalu berusaha menebarkan kebaikan dalam setiap saat meski terkadang lelah mendera, meski harus berhadapan dengan sebuah kondisi sulit dalam kehidupan pribadi kami namun tarbiyah sekali lagi mengajarkan kepada kami bahwa umat ini lebih kami cintai dibanding diri kami sendiri.

Maka kami akan terus bergerak.. Terus melaju untuk menyebarkan cinta, untuk menyebarkan sebuah kalimat Islam itu rahmatan lil ‘alamin itu saja.

beberapa disadur dari Dakwatuna.com

Membentuk Generasi Baru Dengan Tarbiyah

Motivasi bagi kita semua para aktivis dakwah kampus untuk terus membuat tersenyum kampus kita dengan prestasi….!!!!

Pesona Aktivis Tarbiyah

dakwatuna.comDalam potongan sejarah dunia kampus selalu mencatatkan perubahan besar. Kita dapat melihat bagaimana pergolakan kampus mampu meruntuhkan kekuasaan para rezim otoriter. Kekuasaan otoriter Soekarno berakhir dalam pelukan demonstrasi mahasiswa. Sang Bapak Bangsa “Soeharto” tak ketinggalan merasakan bagaimana kekritisan mahasiswa. Mereka dipaksa mundur kaum muda akibat kegagalan mengelola bangsa menuju alam lebih baik. Dalam tataran gagasan, banyak perubahan Indonesia juga banyak bermula dari pemikiran aktivis kampus. Nilai strategis itu melahirkan sebutan “kampus adalah miniatur negara”. Jika ingin menatap masa depan sebuah negara, lihat bagaimana pergolakan dunia intelektual di kampus.

Gerakan tarbiyah sendiri mulai merambah kampus sekitar tahun 1980-an. Banyak pemikiran Ikhwanul Muslimin Mesir menginspirasi kalangan muda tarbiyah. Pesona pemikiran tokoh IM semisal Hasan Al Banna, Sayyid Quthb, Sayyid Sabbiq memenuhi dialektika mahasiswa. Para mahasiswa mendapatkan sentuhan segar indoktrinasi ke-Islaman. Mahasiswa diajak berpikir bagaimana hidup secara Islami menggantikan pemikiran sekuler. Mentoring tumbuh menjamur di pelosok kampus baik negeri atau swasta. Sikap simpatik aktivis dakwah membuat pengaruh tarbiyah merasuki kehidupan mahasiswa. Di pojok kampus lantunan Al-Qur’an menggema, menggeser kebiasan nongkrong yang tidak produktif.

Kaum tarbiyah tak hanya menawarkan sentuhan nilai ruhani. Justru tanpa disadari dari masjid kampus perlawanan terhadap rezim Soeharto bermunculan. Aktivis tarbiyah mulai merintis gerakan menumbangkan kekuasaan Soeharto dan membangun konsep Indonesia baru. Mereka berhasil mengamankan diri dari serbuan agresivitas aparat karena tipikal gerakan yang defensif. Sebuah generasi yang siap menggantikan kepemimpinan kaum tua. Mereka selalu dihinggapi keresahan akibat struktur kehidupan bernegara yang timpang. Dampak krisis ekonomi 1997 dimana rakyat sengsara, membuat kekritisan kaum mahasiswa terus bertambah. Aksi kaum mahasiswa yang dipelopori anak muda tarbiyah makin marak. Puncaknya 21 Mei 1998, terjadi gelombang perubahan bertajuk reformasi.

Kaum Intelektual Prestatif

Seringkali sebagai mahasiswa kita salah kaprah dalam memaknai prestasi. Kita mengalami redefinisi prestasi sebagai sebuah nilai kebanggaan atas nilai keduniaan. Prestasi menjadi terbatas sebagai nilai IPK tinggi, harta yang banyak dan kehidupan mewah. Tidak dapat disalahkan memang, sebab ukuran keberhasilan seringkali atas perspektif duniawi. Tapi sebagai aktivis tarbiyah, kesalahan paradigma itu harus diluruskan untuk menciptakan momentum perubahan. Kampus berpeluang besar mencerdaskan salah kaprah yang selalu terjadi. Tanpa menghilangkan makna diatas, kata prestasi harus diberikan nilai tambah bernama keimanan. Sebab dasar keimanan mampu membentuk moralitas dan menghasilkan manusia cerdas.

Dalam dunia kampus, makna prestasi tidak hanya IPK tinggi. Perlu ada redefinisi bagaimana merumuskan penilaian mahasiswa berprestasi. Kita jangan terjebak penyempitan makna, sehingga terjebak pada generalisasi kata prestasi. Mahasiswa sebagai kaum intelektual jangan terjebak pada pragmantisme sempit. Ketika rutinitas akademik menjebak, persoalan lain tidak mampu tertuntaskan. Maka pengetahuan harus sinergis dengan nilai religius. Penulis mencoba mengurai,tiga kebiasaan membentuk mahasiswa tarbiyah yang selalu segar dan energik.

Pertama membaca sebagai energi utama kehidupan mahasiswa. Kebiasaan membaca berfungsi membangun konstruksi berpikir mahasiswa. Semakin banyak membaca wawasan berpikir akan makin luas. Kita dapat menyaksikan bacaan seseorang dapat menentukan kualitas kehidupannya. Tak heran di negara maju seperti AS dan Jepang, membaca menjadi rutinitas harian. Mereka meluangkan dan mengisi waktu dengan membaca. Sebuah kebiasaan yang memantik kemampuan kognisi seorang manusia modern. Mahasiswa tarbiyah sejatinya harus membiasakan diri membaca. Kebiasaan ini dipupuk agar kompetensi dan daya saing meningkat. Sehingga dalam kehidupan kampus, aktivis tarbiyah tidak diremehkan sisi akademisnya. Jika ini mampu dilakukan tunas tarbiyah akan berkembang dan bercitra baik di mata civitas akademika.

Kedua, menulis sebagai ajang ekspresi kemampuan menuangkan kata. Masalah sebagian besar mahasiswa adalah mereka gagal menuangkan perkataan dalam bahasa tertulis. Kaum tarbiyah harus mampu merubah “nilai negatif” itu, kemudian menyulap menjadi sebuah nilai ilmiah. Menulis harus dibiasakan sebab cenderung bertahan lama dan mendifusi pemikiran ke publik. Jika seorang aktivis tarbiyah mampu menulis, katakanlah di sebuah media kampus. Dia mampu melawan opini negatif atas berbagai komentar miring terhadap aktivitas ke-Islaman kampus. Bahkan tak jarang, tulisan mereka mampu mengubah opini publik atas sebuah isu. Jika dikaitkan kehidupan akademis, menulis dapat merambah ranah ilmiah. Bukan tidak mungkin, kompetisi ilmiah mampu dimenangi aktivis tarbiyah. Dalam beberapa tahun belakangan itu sudah terjadi. Kaum tarbiyah mampu membuktikan dirinya berkualitas dengan memenangi kompetisi karya tulis ilmiah.

Ketiga diskusi sebagai ajang pertukaran, pencerdasan dan kematangan gagasan. Diskusi harus mulai digencarkan aktivis tarbiyah agar kegiatan pencerdasan publik berjalan baik. Kebiasaan berdiskusi akan mampu menghasilkan rumusan berpikir konstruktif dan solutif. Nalar dan kognisi mahasiswa semakin berkembang, sehingga rumusan pemikiran menghasilkan aksi nyata. Kegiatan diskusi baik formal atau nonformal harus menghidupi ruang kelas, pojok taman bahkan bangku seminar. Aktivis tarbiyah harus mampu berargumentasi logis dan epistemologis. Pemikiran sistemik secara tidak langsung membantu pesona tarbiyah semakin eksis di kalangan mahasiswa.

Manusia Cerdas Bermoral

Penulis meyakini tarbiyah sebagai proses pembentukan manusia cerdas dan shalih. Tanpa keimanan, kecerdasan menjadikan kita buta akan realitas. Manusia buta akan menjadi budak akal dan kehilangan pegangan agama ketika mengarungi kehidupan. Manusia cerdas tanpa keimanan, hanya menjadikan diri seorang tuli. Orang tuli bercermin bak sufi yang meninggalkan kehidupan duniawi. Mereka menganggungkan kehidupan ke-Tuhanan dan berusaha menghilangkan kehidupan dunia. Tarbiyah tidak seperti itu, justru hakikat tarbiyah membentuk manusia sempurna. Matang secara akal, kuat secara ruhani sehingga tercipta manusia cerdas bermoral.

Dinamika kampus dan kehidupan akademis menjadi batu bata penguat tarbiyah. Mahasiswa tarbiyah akan dipandang sebagai “leader” jika menampilkan dirinya sebagai sosok cerdas dan elegan. Jika di kelas, dialah pemimpin akademis yang layak dibanggakan. Ketika masyarakat kampus membutuhkan, maka ia siap menuangkan gagasan dan aksi nyata. Keluwesan pergaulan membuatnya mampu beradaptasi dalam berbagai kondisi lingkungan. Jika berhasil diimplementasikan, kesan ekslusif perlahan memudar berganti wajah inklusif. Jadikan kita manusia yang mampu mewarnai tanpa menghilangkan jati diri sebagai muslim kaffah.

Katanya Allah itu Ada, Mana Buktinya? Kenapa Tidak Bisa Kita Lihat?

Kisah ini termasuk kategori ‘Raddus-Syuhubuhat’ (jawaban atas tuduhan) tentang Islam. Musuh-musuh Islam selalu mencari-cari permasalahan dalam agama ini yang sulit dijawab oleh logika kita dan tujuannya agar kaum Muslimin ragu terhadap kebenaran agama mereka, terutama masalah aqidah.

Ada tiga orang pemuda yang ingin menguji pemahaman seorang ulama tentang Islam. Kalau ulama itu tidak bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan itu, apalagi orang awam. Dan kalau tidak ada jawaban yang logis dan memuaskan, maka ada kelemahan dalam agama ini.

Ketiga pemuda itu menemui sang ulama, dengan penuh yakin bahwa sang ulama tidak bisa menjawab pertanyaannya, salah satunya mulai berbicara,

“Ya syeikh, katanya Allah itu ada, mana buktinya? Kenapa tidak bisa kita lihat?”

“Cukup? Ya, ada pertanyaan lagi?” sambut ulama itu.

“Ada syeikh, katanya Allah telah menentukan segalanya, termasuk amal perbuatan kita sudah ditentukan dan ditakdirkan. Kalau memang demikian, kenapa musti ada hisab? Dan kenapa musti ada hukuman bagi orang yang melakukan kesalahan?” pemuda kedua bertanya.

“Ya bagus. Ada lagi yang ditanyakan?” tantang syeikh itu.

“Ya ada lagi syeikh. Katanya syetan itu diciptakan dari api. Dan kita tahu bahwa syetan nanti akan dimasukkan ke dalam neraka. Apa ada pengaruhnya, api dibakar dengan api?” Tanya pemuda ketiga.

“Cukup atau ada lagi?”

“Cukup syeikh.”

“Ya sebentar ya…”

Sang ulama tidak menjawab melainkan mengambil beberapa genggam tanah keras lalu…

Pluk… prak…duss…

Dilemparkan tanah keras itu ke muka ketiga pemuda itu, dan ketiganya meringis kesakitan. Darah pun bercucuran dari wajah mereka.

“Ya syeikh, kami bertanya baik-baik, kenapa Anda melempar kami?”

“Itu jawabannya…” jawab ulama itu.

Ketiga pemuda itu pergi dan langsung membawa kasus ini ke pengadilan. Melaporkan perbuatan ulama itu agar diadili karena kezhalimannya.

Pengadilan menerima pengaduannya pemuda tersebut dan ulama itu pun dipanggil.

Saat sudah berada di atas kursi terdakwa hakim mulai memproses hukumnya dan menanyakan kepada ulama itu perihal dakwaan ketiga pemuda itu.

“Ya syeikh,” kata hakim. “Benarkah Anda telah menyakiti ketiga pemuda ini? Bisa Anda jelaskan?”

“Ketiga pemuda itu menanyakan tiga hal dan saya telah menjawabnya.”

“Jawaban macam apa syeikh? Lalu kenapa mereka terluka seperti itu?”

“Ya, itu jawabannya.”

“Saya tidak mengerti, bisa Anda jelaskan?”

“Mereka bertanya bahwa Allah itu ada, jika ada, mana buktinya? Kenapa kita tidak bisa melihatnya? Sekarang saya bertanya, bagaimana rasanya saya lempar dengan tanah keras itu? Sakit?”

“Jawab wahai pemuda?” minta hakim kepada salah satunya.

“Ya sakit.”

“Kalau memang sakit, berarti sakit itu ada, kalau memang ada, mana buktinya? Kenapa saya tidak melihat ‘sakit’ itu?”

“Ini, darah ini syeikh. Darah ini tanda bahwa sakit itu ada.”

“Begitulah pak Hakim, dia tidak bisa membuktikan adanya sakit dan tidak bisa melihat sakit itu, hanya menunjukkan tandanya, darah. Bahwa sesuatu yang ada tidak mesti bisa dilihat. Tapi ada tanda-tandanya. Sakit itu ada dan tidak bisa kita lihat, hanya ada buktinya, darah. Demikian halnya dengan Pencipta kita, Allah Azza wa Jalla. Ia ada, namun keterbatasan akal kita tidak bisa menangkap keberadaan-Nya. Dan seluruh makhluk di jagad raya ini adalah bukti bahwa Allah itu ada.”

“Bisa diterima,” sela hakim.

“Pertanyaan yang kedua pak hakim, mereka bertanya bahwa Allah telah menentukan segalanya termasuk amal perbuatan manusia dan mentakdirkannya, jika demikian, apa gunanya hisab dan kenapa mesti ada hukuman bagi orang yang berbuat salah?”

“Apa jawaban Anda syeikh?”

“Sekarang saya bertanya kepada kalian. Kalau Anda berkeyakinan seperti itu, kenapa melaporkan perbuatan saya ke pengadilan? Perbuatan saya kan sudah ditentukan?”

“Bisa diterima syeikh, ada lagi?

“Yang ketiga bertanya, syetan adalah makhluk yang diciptakan dari api, lalu di akhirat nanti akan masuk neraka dan disiksa dengan api. Dan saya telah melempar mereka dengan tanah, kita tahu bahwa manusia diciptakan dari tanah, kalau memang sama-sama dari tanah kenapa mesti meringis kesakitan?”

Hakim pun menerima argumentasinya dan memutuskan bebas untuk sang ulama…