Category Archives: Parameter

PERAWATAN AKUARIUM

BAB I
PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang
Akuarium merupakan salah satu wadah pemeliharan ikan yang relative sangat mudah dalam perawatannya. Akuarium dapat digunakan untuk budidaya ikan tawar dan air laut biasanya pada proses kegiatan pembenihan ikan atau untuk pemeliharaan ikan hias. Akuarium ini terbuat dari bahan kaca dimana penamaan akuarium ini berasal dari bahasa latin yaitu aqua yang berarti air dan area yang berarti ruang. Jadi akuarium ini adalah ruangan yang terbatas untuk tempat air yang berpenghuni, yang dapat diawasi dan dinikmati. Akuarium yang digunakan untuk budidaya ikan ini dapat dibuat sendiri atau membeli langsungd dari took           . Fungsi akuarium sebagai wadah untuk budidaya ikan juga dapat berfungsi sebagai penghias ruangan dimana akuarium tersebut dapat dinikmati keindahannya oleh penggemarnya.
Ikan merupakan
salah satu fauna khas dari lahan basah. Perairan air tawar, payau dan asin merupakan habitat bagi berbagai jenis ikan. Ikan karang merupakan ikan yang hidup, berkembang biak dan mencari makan disekitar karang. Karena ikan pada umumnya berukuran kecil dan relatif tidak berpindah-pindah dan sebagian besar merupakan ikan hias.
Ikan hias cukup dikenal oleh masyarakat sebagai hiasan aquarium. Perkembangan ikan hias di Indonesia mengalami kemajuan yang terus meningkat, terutama ikan hias air tawar asli Indonesia. Jenis-jenis ikan tersebut antara lain jenis siklid, lemon, cupang, black ghost, manvia, palmas, guppy, discus, oscar, arwana, dan masih banyak lagi lainnya.
1.2  Tujuan dan Kegunaan
Tujuan dalam membuat makalah ini adalah untuk mengetahui bagaimana cara melakukan perawatan akuarium atau kolam dengan baik dan benar.
Sedangkan kegunaan dari makalah ini yaitu agar kita dapat memahami perawatan akuarium atau kolam ikan hias.
BAB II
PEMBAHASAN
2.1  Perawatan Akuarium Air Tawar (Aquascape)
Pada dasarnya, sebuah akuarium air tawar aquascape dan kolam ikan hias membutuhkan kesesuaian dalam kualitas air, suhu, cahaya, dan nutrisi agar kondisinya tetap sehat. Kelebihan maupun kekurangan dari faktor-faktor di atas dapat mempengaruhi keseimbangan dan kesehatan aquarium air tawar aquascape anda. Berikut ini adalah beberapa kegiatan dalam  perawatan aquascape yang  dapat anda lakukan sendiri:
Berikut perawatan akuarium air tawar (aquascape) pada umumnya adalah sebagai berikut.
a.     Penggantian air
 Pada minggu-minggu awal selesainya setting aquascape, gantilah air 1 minggu sekali sebanyak 30%. Setelah umur aquascape sudah lebih dari 1 bulan, maka dapat melakukan pergantian air lebih jarang (misalnya 2-4 minggu sekali). Mempertahankan kualitas air yang baik dan mengelola pasokan air secara teratur adalah cara praktis paling umum mempertahankan ekosistem dalam kolam dan akuarium tetap terjaga.
 Selain itu, selama musim panas uji kualitas air yakni pH air antara 6,5 hingga 7, juga ketinggian air kolam yang mudah menguap. Perhatikan pula ketika ganggang mulai muncul karena dapat mengganggu ekosistem kolam. Sedangkan pada musim penghujan, lakukan pembersihan kolam secara berkala dengan menggosok sisi-sisi kolam tanpa sabun.
b.     Pemupukan
 Setelah beberapa periode waktu tertentu setelah selesai setting, maka nutrisi dari pupuk dasar aquascape akan terus berkurang. Oleh karena itu dibutuhkan pemupukan tambahan. Untuk tanaman air yang menyerap nutrisinya melalui daun dan batang, gunakanlah pupuk cair. Sementara untuk tanaman air yang dominan menggunakan akarnya untuk menyerap nutrisi, berikanlah pupuk dalam bentuk tablet yang tinggal ditancapkan. Pemberian pupuk haruslah sesuai dengan dosis yang dianjurkan, kelebihan ataupun kekurangan dosis akan menyebabkan dampak yang negatif bagi ekosistem akuarium air tawar aquascape maupun kolam anda.
c.      Pemangkasan
       Bila tanaman air anda sudah semakin rimbun, atau malah terkesan berantakan, pangkas tanaman tersebut. Pemangkasan berkala akan mencegah kematian tanaman-tanaman foreground akibat terhalangnya cahaya yang disebabkan oleh tanaman-tanaman aquascape yang lebih tinggi.
d.      Sifon
Terkadang sisa-sisa material mati seperti tanaman, ikan, udang, atau sisa pakan ikan yang berlebih mengendap di dasar aquarium. Bila kita menunggu proses alami penguraiannya, ini akan memakan waktu cukup lama dan membahayakan kehidupan di dalam aquascape. Oleh karena itu, material-material tersebut apabila cukup menggangu, hendaknya segera dibersihkan dengan cara disifon, yakni dikeluarkan dengan menggunakan selang penyedot.
Cek berbagai kelengkapan lain
Berikut ini adalah hal-hal yang harus dilakukan:
·         Periksalah apakah tabung gas CO2 anda masih terisi/hampir habis.
·         Periksalah dosis CO2 yang dimasukkan ke dalam aquarium anda.
·         Periksalah keadaan lampu anda, apakah cahayanya mulai redup, mati, dsb.
·         Bersihkan chiller secara berkala.
·         Periksalah apakah timer yang anda gunakan masih berfungsi dengan baik.
·         Jangan lupa membersihkan filter dan pompa serta memeriksa selang dan kemungkian kebocoran.
Adapun beberapa perawatan akuarium air tawar aquascep berdasarkan waktu perawatannya, yaitu sebagai berikut
a.    Perawatan Harian
  • Beri makan ikan setidaknya 2 kali sehari, terutama apabila ikan-ikan tersebut tergolong pada ikan yang memerlukan energi tinggi. Sesuaikan pemberian pakan untuk ikan lain, dan invertebrata
  • Periksa kesehatan penghuni akuarium. Pindahkan dan rawat ikan yang tampak sakit ke dalam akuarium karantina
  • Periksa apakah terdapat tanda-tanda ikan akan memijah, tempatkan ikan tersebut pada tempat pemijahan yang sesuai. Apabila ditemukan burayak pindahkan segera burayak tersebut ke tempat lain.
  • Periksa temperatur akuarium
  • Periksa kesehatan jenis-jenis ikan malam pada malam hari dan berikan pakan ikan tersebut sesaat sebelum atau setelah lampu dimatikan.
  • Matikan lampu akurium sesaat sebelum lampu ruangan dimatikan atau sebelum cahaya alam menjadi gelap
b.    Perawatan Mingguan
  • Puasakan ikan selama satu hari (jangan lakukan hal ini pada ikan yang sedang/akan memijah atau pada burayak dan anak-anak ikan)
  • Periksa heater, termostat. Cermati apakah ada atau tidak tanda kerusakan.
  • Periksa pH, kesadahan, kadar garam (untuk akuarium laut), kadar amonia dan nitrit. Lakukan koreksi apabila dijumpai parameter yang menyimpang secara perlahan-lahan
  • Periksa cadangan pakan ikan, filter, dan peralatan lainnya
c.    Perawatan 2 Mingguan
  • Matikan aerasi (jangan lakukan untuk akuarium laut)
  • Secara perlahan aduk permukan lapisan pasir/gravel pada akuarium anda
  • Bersihkan algae pada kaca
  • Biarkan kotoran dari kaca dan permukaan lapisan pasir yang diganggu tadi mengendap
  • Siphon kotoran bersama dengan sekitar 25 persen air akuarium
  • Ganti air tersebut dengan air yang telah diendapkan sebelumnya, usahakan agar pH, kesadahan, dan temperatur air tambahan ini sama dengan air akuarium
  • Nyalakan kembali aerasi
d.    Perawatan Bulanan
  • Bersihkan media filter mekanik
  • Rendam dan bilas media filter biologi dengan menggunakan air akuarium (Jangan cuci dengan bahan pembersih, direbus/disiram air panas, atau menggunakan bahan kimia lain. Hal ini akan menyebabkan bakteri filtrasi mati sehingga filter biologi menjadi tidak berfungsi, sampai bakteri baru tumbuh kembali di media tersebut)
  • Apabila anda menggunakan filter under gravel, bebaskan sementara pipa out let dari aerator atau head pump. Bersihkan bagian tersebut
  • Melalui pipa out let tersebut masukan pipa siphon dan cobalah menyiphon kotoran (mulm) yang ada dibagian bawah filter under gravel.
  • Bersihkan batu aerasi
  • Periksa diafragma dan pompa aerator
  • Bersihkan pipa input udara pada aerator
  • Periksa peralatan penerangan, terutama sambungan kabel, terminal-terminal dll
  • Singkirkan bagian-bagian tanaman yang mati, dan lakukan pemangkasan apabila diperlukan
  • Ganti tanaman yang tumbuh tidak subur
2.2 Perawatan Akuarium Air Laut (Marinescape)
Berbeda dengan akuarium air tawar, pemeliharaan ikan air laut lebih rumit. Ikan-ikan hias air laut sangatlah sensitif dan mudah mati. Oleh karena itu, semua perlengkapan dan peralatan harus tersedia serta berfungsi dengan baik. Jika salah satu peralatan tidak berfungsi akan berakibat bagi kehidupan penghuni akuarium. Dalam merawat akuarium air laut juga dibutuhkan perlengkapan yang memadai.
Selain perlengkapannya, kita juga harus memperhatikan pokok-pokok kegiatan dalam pembersihan/pemeliharaan akuarium yaitu
a.     Menghitung jumlah penghuni akuarium
Hal ini dimaksudkan agar kita mengetahui penghuni akuarium yang mati sehingga kita bisa mengeluarkannya sehingga tidak mencemari ikan yang lain.
b.     Pengontrolan kualitas air
Kegiatan ini meliputi pemanfaatan terhadap keasaman air (pH), suhu dan salinitas air. Hal ini dilakukan agar terjadi keseimbangan air dalam akuarium sehingga tidak terjadi penurunan kualitas air yang dapat mempengaruhi kehidupan penghuni akuarium.
c.      Penambahan air
Kegiatan ini dilakukan jika air dalam akuarium mengalami penurunan jumlahnya karena penguapan. Kegiatan ini juga erat hubungannya dengan salinitas air. Semakin tinggi penguapan dalam akuarium untuk menyeimbangkan kadar garam dalam akuarium. Air dalam akuarium akan selalu menguap dan yang menguap tersebut hanyalah airnya saja, bukan dengan garamnya. Untuk itu gunakan air tawar (dengan kondisi terbaik yang bisa anda dapatkan), jangan menggunakan air laut untuk mengisi kembali air yang menguap tersebut. Jika air laut yang digunakan untuk mengisi kembali air yang menguap ini, maka yang akan didapatkan adalah semakin tingginya salinitas air dalam akuarium. Jika salinitas melewati angka tersentu, beberapa jenis atau bahkan semua ikan bisa mati. Gunakan hydrometer setiap kali anda mengisi ulang air akuarium anda.
d.     Penggantian air
Penggantian air dalam akuarium air laut ada dua macam  yaitu penggantian air sebagian dan penggantian air total. Penggantian air sebagian biasanya dilakukan setiap enam bulan sekali.
e.     Pembersihan lumut
Kegiatan pembersihan lumut tergantung situasi dan kondisi akuarium. Jika lumut yang menempel pada kaca terlalu mengganggu maka perlu diperhatkan.
2.3 Perawatan Kolam Ikan
Kolam ikan merupakan bagian dari suatu estetika hidup yang selaras dengan lingkungan dan alam. Kehadiran kolam ikan bukan hanya mempercantik rumah atau bangunan yang biasa penempatannya di ruang-ruang publik, seperti di halaman rumah dan sekitarnya, namun juga sebagai alat yang mampu memberikan nilai lebih bagi penghuninya.
Namun ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam perawatan kolam, yaitu sebagai berikut
1.     Sebelum kolam diisi air (kondisi kolam baru) disarankan untuk melapisi sisi dalam kolam ikan dengan waterproof (pelapis air) agar kolam tidak bocor.
2.     Penambahan filter yakni batu siolit dan biobol diperlukan untuk menjaga kejernihan air.
3.     Jangan menghabisi lumut, hal ini dimaksudkan karena ikan yang ada di kolam menyukai lumut dan jika menghabisi lumut juga dapat membuat ikan stress.
4.     Peletakkan kolam ikan ditempat yang teduh. Ini penting, karena kolam ikan yang berada ditempat panas dan tempat yang sering dilalui debu, tidak akan bisa bersih (jernih) karena kolam yang terkena sinar matahari langsung berpotensi airnya menjadi hijau dan keruh.
  
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
1.    Pada dasarnya, sebuah akuarium air tawar aquascape dan kolam ikan hias membutuhkan kesesuaian dalam kualitas air, suhu, cahaya, dan nutrisi agar kondisinya tetap sehat. Kelebihan maupun kekurangan dari faktor-faktor di atas dapat mempengaruhi keseimbangan dan kesehatan aquarium air tawar aquascape dan kolam.
2.    Pemeliharaan ikan air laut lebih rumit. Ikan-ikan hias air laut sangatlah sensitif dan mudah mati. Oleh karena itu, amat dianjurkan untuk memperhatikan pokok-pokok kegiatan dalam pembersihan/pemeliharaan akuarium. Selain itu  semua perlengkapan dan  peralatan harus tersedia serta berfungsi dengan baik. Jika salah satu peralatan tidak berfungsi akan berakibat bagi kehidupan penghuni akuarium.
3.    Kolam ikan merupakan bagian dari suatu estetika hidup yang selaras dengan lingkungan dan alam. Oleh sebab itu dibutuhkan perawan yang intensif demi keselarasan tersebut.
3.2 Saran
            Dalam perawatan akuarium dan kolam harus lebih ditingkatkan untuk menjaga kualitas air, suhu, cahaya, dan nutrisi agar kondisinya tetap sehat serta menjaga keseimbangan ekosistem agar terciptan keindahan

PERAN FITOPLANKTON DI DALAM PROESES NITRIFIKASI DI PERAIRAN


BAB I
PENDAHULUAN
I.I. Latar Belakang
            Fitoplankton adalah komponen autotrof plankton, yang mampu mensintesis makanan sendiri yang berupa bahan organik dari bahan anorganik dengan bantuan energi. Komponen autotrof ini berfungsi sebagai produsen (Anonim, 2008b: 1). Sebagaimana dikemukakan pula oleh Fachrul (2007: 92) bahwa fitoplankton berperan sebagai produsen dalam ekosistem perairan yang merupakan salah satu komponen utama dalam suatu sistem rantai makanan atau jaring makanan, karena fitoplankton adalah mikroorganisme yang mampu melakukan fotosintesis. Pada ekosistem danau fitoplankton jauh lebih penting daripada vegetasi berakar di dalam memproduksi makanan pokok untuk kehidupan ekosistem (Odum, 1996: 386). Hal ini terjadi karena tanaman berakar hanya terdapat di daerah litoral, sedangkan fitoplankton terdapat di daerah limnetik yang lebih luas. Kemampuan fitoplankton untuk
mensintesis sendiri bahan organiknya menjadikan mereka sebagai dasar dari sebagian besar rantai makanan di ekosistem lautan dan di ekosistem air tawar. (Anonim, 2008b: 1). Dalam struktur piramida makanan, fitoplankton sangatlah penting karena menempati posisi sebagai produksi primer. Fitoplankton yang berperan sebagai produsen, peranan produsen dalam suatu ekosistem adalah sebagai pengubah energi cahaya matahari menjadi energi kimia melalui proses fotosintesis (Odum, 1996: 376). Energi kimia disini merupakan senyawa organik karbon yang bemanfaat bagi organisme heterotrof yang hidup di ekosistem tersebut. Maka, produktivitas perairan sangat ditentukan dengan adanya fitoplankton. Suatu perairan cenderung memiliki produktivitas primer tinggi apabila ketersediaan fitoplanktonnya tinggi (Nontji, 1984 dalam Nahib, 2007: 73). Keberadaan fitoplankton disuatu perairan sangat dipengaruhi oleh faktor biologi, fisik dan kimiawi lingkungan diperairan tersebut (Fachrul, 2007: 91). Beberapa faktor fisik dan kimiawi lingkungan yang mempengaruhi keberadaan fitoplankton diantaranya intesitas cahaya, kedalaman perairan, unsur hara (Fachrul, 2007: 90-91).
I.II. Tujuan
            Tujuan pembuatan makalah ini yaitu untuk mengetahui kedudukan fitoplankton di dalam perairan dalam hal ini perannya didalam siklus nitrogen (nitrifikasi). Selain itu juga untuk dijadikan sebagai bahan bacaan dan sumber referensi bagi pembaca.

 BAB II
PEMBAHASAN
Unsur nitrogen (N) dan fosfor (P) merupakan unsur hara (nutrisi) yang diperlukan oleh flora (tumbuhan laut) untuk pertumbuhan dan perkembangan hidupnya. Unsur-unsur tersebut ada dalam bentuk nitrat (NO3) dan fosfat (PO4). Unsur-unsur kimia ini bersama-sama dengan unsur-unsur lainnya seperti belerang (S), kalium (K) dan karbon (C).Disebut juga unsur hara (nutrien)
Nitrogen merupakan salah satu unsur penting bagi pertumbuhan organisme dan proses pembentukan protoplasma, serta merupakan salah satu unsur utama pembentukan protein. Diperairan nitrogen biasanya ditemukan dalam bentuk amonia, amonium, nitrit dan nitrat serta beberapa senyawa nitrogen organik lainnya. Pada umumnya nitrogen diabsorbsi oleh fitoplankton dalam bentuk nitrat (NO3 – N) dan ammonia (NH3 – N). Fitoplankton lebih banyak menyerap NH3 – N dibandingkan dengan NO3 – N. karena lebih banyak dijumpai diperairan baik dalam kondisi aerobik maupun anaerobik.
Senyawa-senyawa nitrogen ini sangat dipengaruhi oleh kandungan oksigen dalam air, pada saat kandungan oksigen rendah nitrogen berubah menjadi amoniak (NH3) dan saat kandungan oksigen tinggi nitrogen berubah menjadi nitrat (NO3-).
Senyawa ammonia, nitrit, nitrat dan bentuk senyawa lainnya berasal dari limbah pertanian, pemukiman dan industri. Secara alami senyawa ammonia di perairan berasal dari hasil metabolisme hewan dan hasil proses dekomposisi bahan organik oleh bakteri
Sumber ammonia di perairan adalah hasil pemecahan nitrogen organic (protein dan urea) dan nitrogen anorganik yang terdapat dalam tanah dan air, juga berasal dari dekomposisi bahan organik (tumbuhan dan biota akuatik yang telah mati) yang dilakukan oleh mikroba dan jamur yang dikenal dengan istilah ammonifikasi.
Nitrat (NO3) adalah bentuk nitrogen utama di perairan alami. Nitrat merupakan salah satu nutrien senyawa yang penting dalam sintesa protein hewan dan tumbuhan. Konsentrasi nitrat yang tinggi di perairan dapat menstimulasi pertumbuhan dan perkembangan organisme perairan apabila didukung oleh ketersediaan nutrient. Konsentrasi ammonia untuk keperluan budidaya laut adalah ” 0,3 mg/l (KLH,2004). Sedangkan untuk nitrat adalah berkisar antara 0,9 – 3,2 mg/l (KLH, 2004; DKP,2002).
Zat-zat hara ini dibutuhkan oleh fitoplankton maupun tanaman yang hidup di laut untuk pertumbuhannya. Fitoplankton selanjutnya akan dimakan oleh zooplankton (fauna kecil yang hidup di permukaan air), zooplankton dan tanaman akan dimakan oleh ikan-ikan kecil, ikan-ikan kecil akan dimakan oleh ikan besar dan demikian seterusnya. Tanaman dan binatang yang hidup di laut akan mati dan tenggelam ke dasar perairan, selanjutnya akan membusuk dan nutrien yang ada di tubuhnya akan kembali ke dalam air, sehingga dasar perairan lebih kaya akan nutrien dibandingkan dengan permukaan.
Upwelling adalah gerakan vertikal/ hampir vertical atau penaikan massa air di bawah permukaan ke permukaan. Upwelling merupakan proses yang penting untuk mengembalikan zat-zat hara dari lapisan air dekat dasar ke daerah permukaan, oleh karena itu daerah di mana terjadi proses upwelling akan sangat kaya akan nutrien, sehingga plankton melimpah, dan ikan-ikan akan berkumpul di daerah itu, sehingga daerah upwelling merupakan daerah yang sangat baik untuk usaha penangkapan ikan.
II.I. Sumber Oksigen Terlarut
Oksigen terlarut adalah salah satu parameter paling mendasar di perairan karena mempengaruhi kehidupan organisme akuatik. Umumnya konsentrasi oksigen saat permulaan fajar rendah, lalu tinggi pada siang hari kemudian secara kontinu berkurang sepanjang malam karena kebutuhan respirasi komunitas.
Penguraian Bahan Organik Wetzel dan Likens (1991) menyatakan bahan organik di ekosistem perairan berada dalam bentuk senyawa organik terlarut sampai bahan organik partikulat (POM) dalam agregat besar, serta dari organisme hidup yang mati.
Siklus biogeokimia mempengaruhi laju dekomposisi C, N, P, S dan oksigen. Proses dekomposisi adalah proses yang kontinu, tetapi lajunya bervariasi tergantung jumlah subtrat dan variabel lingkungan.
II.II. Dekomposisi Aerobik
Gunnison et.al., (1985) menyatakan pada dekomposisi aerobik,mikroorganisme aerobik, mengkonversi bahan organik yang tersedia menjadi komponen inorganik, karbondioksida, nitrat, sulfat, dan fosfat, dan mengurangi oksigen di perairan.
II.III. Dekomposisi Anaerobik.
Respirasi anaerobik dapat didefinisikan sebagai reaksi biologi dimana oksidasi senyawa anorganik sebagai akseptor electron. Pada kondisi tidak ada oksigen bakteri anaerob mengoksidasi bahan organik dengan menggunakan berbagai agen oksidasi : manganase, nitrat, besi, sulfat dan bikarbonat.
Reduksi nitrat (denitrifikasi) umumnya dengan cepat diikuti deplesi oksigen dan hasilnya yaitu : CO2, air dan nitrogen (melalui nitrit). Pereduksi nitrat (Pseudomonas, Bacillus, Micrococcus, Thiobacillus denitrificans) adalah anaerobik fakultatif dan menggunakan oksigen jika suplainya cukup.
II. IV. Eutrofikasi 
            Eutrofikasi adalah istilah yang menggambarkan penuaan danau. Eutrofikasi secara alami terjadi dalam waktu yang panjang. Pengkayaan nutrien yang dikuti oleh kemunduran kualitas air. Pengertian pengkayaan badan air dengan nutrien inorganik, khususnya nitrogen dan fosfor.
Istilah plankton pertama kali digunakan oleh Victor Hensen pada tahun 1887,dan disempurnakan oleh Haeckel tahun 1890.Kata plankton berasal dari bahasa Yunani yang berarti  mengembara.dan dapat diartikan sebagai seluruh kumpulan organisme baik hewan maupun tumbuhan yang hidup terapung atau melayang didalam air,tidak dapat bergerak atau dapat bergerak sedikit dan tidak dapat melawan arus.
Plankton dapat dikelompkan menjadi beberapa kelompok berdasarkan cara makan, keberadaan/dominansi,asal usul,ukuran, bentuk dan koloni sel,serta alat penangkap.pengelompokan plankton yang paling umum  didasarkan pada cara makanannya.berdasarkan cara makanannya plankton dapat dikelompokkan kedalam bakterioplankton (saproplankton),fitoplankton,dan zooplankton.
Bakterioplankton merupakan kelompok plankter yang terdiri atas organisme yang tidak berklorofil, meliputi bakteri (Micrococcus,Sarcina,Vibrio,Bacillus,Dll). Fitoplankton merupakan tumbuhan planktonic berklorofil yang umumnya terdiri atas (Bacillariphyceae, Chlorophyceae, Dinophyceae).
Selaian berklorofil fitoplankton juga memiliki bahan makanan cadangan yang umumnya berupa pati atau lemak,dinding sel yang tersusun dari selulosa,serta bentuk flagel yang beragam.zooplankton merupakan kelompok plankter yang mempunyai cara makan holozik.Anggota kelompok Ini meliputi hewan–hewan dari kelompokb protozoa,coelenterate,ctenopora,amelina,dan beberapa larva hewn-hewan vertebrata.kelompok zooplankton hamper seluruhnya didominasi oleh copepod dengan nilai sebesar 50-80%.


BAB III
PENUTUP
III.I. Kesimpulan
            Fitoplankton di dalam perairan memiliki kedudukan yang sangat penting, selain kedudukannya sebagai produsen di dalam rantai makanan. Fitoplankton juga berperan penting di dalam proses nitrifikasi. Oksigen yang dihasilkan oleh fitoplankton akan digunakan untuk merubah amoniak menjadi nitrat melalui proses nitrifikasi. Nitrat merupakan nutrient yang penting di dalam perairan karena berperan dalam proses pembentukan protoplasma dan juga sintesa protein. Fitoplankton juga membutuhkan nitrat di dalam proses pertumbuhannya.
III.II Saran
            Keberadaan nitrat di dalam perairan dipengaruhi oleh jumlah amoniak dan oksigen. Amoniak terdapat di dalam perairan selain terdpat secara alami juga cukup banyak yang berasal dari limbah domestik. Sehingga perlu penelitian lebih lanjut mengenai pembuangan limbah ke dalam perairan.